Motivasi



BERSYUKUR ITU INDAH DAN MUDAH

Mendengar istri mengomel di rumah, berarti aku masih punya keluarga.

Mendengar suami masih ngorok di sebelahku berarti aku masih punya suami.

Mendengar ayah dan ibu menegurku dengan tegas berarti aku masih punya orang tua.

Merasa lelah dan pegal linu setiap sore, itu berarti aku mampu bekerja keras.

Membersihkan piring dan gelas kotor setelah menerima tamu di rumah, itu berarti aku punya teman.

Pakaianku terasa agak sempit, itu berarti aku makan cukup.

Mencuci dan menyetrika tumpukan baju, itu berarti aku memiliki pakaian.

Membersihkan halaman rumah, jendela, memperbaiki talang dan selokan air, itu berarti aku memiliki tempat tinggal.

Mendapatkan banyak tugas yang merepotkan, itu berarti aku dipercayai dapat melakukannya.

Mendapatkan rekan kerja/bisnis yang mengesalkan menandakan karier/bisnis ku masih bergerak dan hidup.

Mendapatkan banyak komplain dari customer kita menandakan bahwa customer kita masih ada, masih loyal dan menginginkan kita menuju perubahan ke arah lebih baik.

Mendengar nyanyian suara yang fals, itu berarti aku bisa mendengar. Mendengar bunyi jam alarm di pagi hari, itu berarti aku masih hidup.

Akhirnya banyak hal yang dapat kita syukuri setiap hari. Aku juga bersyukur mendapatkan pesan ini, karena secara tidak sadar aku masih memiliki teman yang peduli padaku.

Seseorang yang peduli tentang aku telah mengirimkannya kepadaku. Dan karena aku peduli tentangmu maka aku mengirimkannya juga kepadamu.

Berhenti mengeluh dan bersyukurlah. Bersyukur dalam setiap keadaan meski tak ada alasan untuk bersyukur sekalipun.

Semoga yang membaca pesan ini selalu diberkahi dengan kesehatan, kebahagiaan
آمــــــــــــــــــين يا رب العالمين
Salam SemangKA (Semangat Karena Allah)

 



Belajar Versus(Kebalikan)
 
Ini adalah sebuah pengalaman pribadi ketika mengajar, karena ada materi pembiasaan yang mereka harus terima saya sering mengajarkan anak-anak untuk saling mengingatkan terlebih jika temannya melakukan kesalahan agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Suatu hari ada seorang anak yang melapor bahwa temannya seringkali mengolok-olok nama orang tuanya dengan cara memanggil anak tersebut bukan namanya sendiri,namun dengan menyebutkan nama orantuanya. Dia sebel dan tidak suka dipanggil dengan sebutan tersebut.

Akhirnya saya menceritakan bahwa dulu para sahabat bangga sekali ketika orangtuanya disebut. Karena itu merupakan kebanggaan terhadap orangtuanya bagi budaya bangsa Arab. Sebut saja Ali Bin Abi Thalib klo diterjemahkan artinya Ali anaknya Abi Thalib. Umar bin Khottob artinya Umar Anaknya Khottob. Utsman bin Affan artinya Ustman anaknya Affan. Jadi tak perlu marah karena ia sedang membuat ayahmu terkenal. Jadi ketika ia mencoba mengolok-olok nama ayahmu cukup dengan membalasnya dengan ucapan "terima kasih telah membuat nama ayahku semakin terkenal, nama ayahmu tidak terkenal ya kok tidak ada yang menyebutnya?. ayo sebut lagi nama ayahku, teruskan...teruskan... Jangan berhenti agar ayahku makin terkenal". Nah pasti ia akan berhenti mengolok-olok nama ayahmu.

Pak,tapi kan klo saya sering lapor kesalahannya saya sering disebut COMBE. Nah akhirnya saya masuk kelas dan mengatakan pada anak-anak bahwa ketika seseorang melapor pd gurunya dg niat untuk memperbaiki perilakunya dan dikatakan COMBE itu adalah hal yg benar karena COMBE itu bisa berarti menCOba MemBEnarkan. Jadi tak perlu risau dan takut diolok-olok dengan istilah COMBE.kalian setuju??? "Iya pak",seru anak-anak.

Begitu halnya ketika mereka mengajak kawan-kawannya untuk segera sholat. Ada yg bermalas-malasan dan marah ketika diajak sholat malah mengatakan "kamu ini sok alim, sok bau surga" lalu saya harus bagainana pak? Lalu saya jawab, cukup balas saja dengan ucapan "Alhamdulillah, saya sok alim daripada kamu sok kafir masa' diajak sholat saja susah, alhamdulillah aku sok bau surga daripada kamu sok bau neraka". Nah selesai kan masalahnya?

Alhamdulillah.... Setelah itu tidak pernah ada lagi laporan anak mengolok-olok nama orangtuanya, mengatakan COMBE dan sok alim ketika mereka mengingatkan temannya. Semoga dengan belajar berbicara kebalikan  menjadi sebuah inspirasi untuk mendidik mereka menjadi anak yang lebih baik.amin



PENYALURAN EMOSI
Hari itu saya berhenti dan tertarik membaca sebuah buku berjudul Mendidik Karakter dengan Karakter, setelah saya baca beberapa bab. ada materi yang menurut saya menarik untuk di sharing, semoga saja akan bisa menjadi inspirasi untuk kita terutama orang tua dengan kesibukan "ekstra tinggi" di kantor sehingga susah menyalurkan emosi yang kadang meluap bagai gulungan ombak tsunami. berikut ini ceritanya:


Seorang ibu baru saja pulang dari tempat kerjanya dalam keadaan lelah. Urusan dan pekerjaan kantor yang menumpuk masih menggelayuti pikirannya. Perjalanan dari tempat kerja yang cukup jauh dan macet membuat tubuhnya kian terasa letih.

Dengan lunglai, ia membuka pintu rumahnya. Terpampanglah ruang tamunya yang berantakan. Baru selangkah kakinya masuk ruangan kedua anaknya berhamburan menyambutnya dan seakan berlomba ingin berbicara, minta ini dan itu.

Si Ibu makin merasa pening. Akhirnya, ia masuk kamar dan mengunci pintunya. Ia benar-benar lelah. Lalu iapun merebahkan tubuhnya. Didengarnya anaknya yang paling kecil berteriak sambil memukul-mukul pintu kamar. Pembantunya membujuk dan menghiburnya. Si Ibu sebenarnya merasa iba hatinya mendengar tangisan anaknya. Hatinya berkata, “Maafkan ibu, Nak.! Ibu perlu istirahat sebentar saja agar bisa bermain lagi dengan kalian.”

Mungkin banyak Ibu ataupun Bapak yang berkerja mengalami pengalaman seperti diatas. Karena lelah, Si Ibu/Bapak kurang peduli pada anak-anaknya yang seharian ditinggalkannya. Ia berharap anak-anaknya mengerti kondisinya.

Namun, Ibu/Bapak lupa bahwa sikapnya itu akan meninggalkan jejak di otak anaknya hingga dewasa nanti. Jika Ibu/Bapak dalam keadaan capek, bermuka masam, sibuk dengan diri sendiri, dan tidak peduli dengan sekitarnya tanpa disadari otak anak akan mencatatnya. “Oooo... kalau sedang capek boleh tidak peduli pada orang lain”. Apalagi jika Ibu/Bapak sampai terpancing sehingga ia berkata, “Sudah!” Bisa diam tidak, Ibu/bapak lagi capek”.

Jika hal itu terjadi dan sering diucapkan Ibu/bapak, suatu saat ketika anak sudah dewasa kemudian sedang capek dan banyak pekerjaan, lalu ibu/bapaknya bertanya/menyuruh sesuatu pada anaknya maka sang anak bisa berkata, “Ibu/Bapak bisa diam tidak! Saya lagi capek”. Mungkin Si Ibu/Bapak akan sakit hati pada anaknya, padahal merekalah dulu yang menanamkan sikap tersebut pada anaknya.

Akan tetapi jika ibu/bapak dalam keadaan capek berkata,”Ibu memang capek, tapi masih ada sisa tenaga untuk berjalan dan berbicara dnegan kalian. Capek bisa hilang kalau kita istirahat, makan dan minum”. Atau perkataan lain yang bisa membuat anak-anak memahaminya maka anakpun akan meniru sikap kita yang seperti itu.

Ingatlah saudaraku, saat lelah penting bagi ibu/bapak untuk mengelola diri agar jangan sampai terpancing emosi, sebab emosi bisa menular. Daniel Goleman dalam bukunya social Intelegence menyatakan bahwa dalam otak terdapat banyak syaraf cermin(mirror neuron) yang dapat memantulkan aktivasi sel otak orang lain.

Jika Ibu/bapak dalam keadaan lelah dan marah berhadapan dengan anak/siswa perasaan itu akan menjalar pada anak sehingga anak bisa balik mengekspresikan kemarahannya pada si Ibu/bapak. Akibatnya, Ibu/Bapak tentu akan merasa tidak nyaman.

Jika Ibu/Bapak dalam keadaan lelah masih bisa tersenyum dan bersikap ramah, anakpun akan tetap merasa nyaman. Pancaran kebahagiaan di wajah ibu/bapak akan menular pada sang anak. Anak akan memiliki konsep di pikirannya bahwa ibu adalah sosok yang menyenangkan dalam situasi apapun. Hubungan ibu dan anakpun akan terjalin dengan indah.
Sumber bacaan: Widyanti, Ida S. 2012.  Mendidik Karakter dengan Karakter. PT Arga Tilanta. Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar